Kamis, 09 Januari 2014

HAK BK BAGI ABK DI SEKOLAH

A.     Tujuan Bimbingan Konseling
Tujuan umum dari layanan bimbingan dan konseling bagi ABK adalah sesuai dengan tujuan pendididikan, yang tertulis pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (Depdikbud, 1994:5)
Secara umum layanan bimbingan konseling bagi anak luar biasa di sekolah bertujuan agar setelah mendapat layan bimbingan knseling anak dapat mencapai penyesuaian dan perkembangan sesuai dengan sisa kemampuannya, bakat, dan nilai – nilai yang dimilikinya. Secara umum tujuan tersebut mengaah kepada “self-actualization, selffrealization, fully functioning dan self – acceptance” sesuai dengan variasi perbedaan inividu antara sesame anak. Hal ini mengingat setiap siswa memiliki keunika – keunikan tertentu.
Bagi anak luar biasa selain tujuan tersebut di atas, tekaan pencapaian tujuan lebih diarahkan untuk membentuk kompetensi positif dari kecacatan yang dimilikinya. Mereka tidak begitu terganggu dengan kecacatan yang ia miliki, tapi justru ada usaha optimalisasi sisa kecacatan tersebut.
Secara khusus layanan bimbingan konseling di sekolah bertujaun agar anak dapat :
a.       Memahami dirinya dengan baik, yaitu mengenal segala kelebihan dan kelemahan yang dimiliki berkenaan dengan bakat , minat, sikap, perasaan, dan kemampuannya.
b.      Memahami lingkungan dengan baik, meliputi lingkunan pendidikan di sekolah, lingkungan asrama, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan sosial masyarakat. Dari segi pendidikan pendidkan di sekolah, anak hendaknya dapat memahami peraturan – peraturan sekolah, kemudahan – kemudahan yang ada di sekolah, ruangan sekolah, fasilitas sekolah, dan sebagainya. Dari segi lingkungan asrama aak hendaknya memahami praturan asrama, ruangan asrama, fasilitas asrama,  dan sebagainya. Dari segi lingkungan pekerjaan anak hendaknya mampu memahami keterampilan kerja yang dimikinya, kondisi – kondisi kerja, hasil kerja, dan sebagainya. Dari segi lingkungan social masyarakat anak hendaknya mampu memahami adat istiadat masyarakat, budaya yang ada di masyarakat, dan sebagainya.
c.       Membuat pilihan dan keputusan yang bijaksana, yaitu pilihan dan keputusan yang didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri, dan lingkungannya.
d.      Mengatasi masalah – masalah yag dihadapi dalam kehidupan sehari – hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam hal ini pengawasan aktivitas kehidupan sehari – hari merupakan persyaratan utama untuk membantu mengatasi masalah – masalah dalam kehidupan sehari – hari

B.     Tujuan Bimbingan Konseling di TKLB
Pada dasarnya semua anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan permasalahan yang relatif sama, yaitu mengalami hambatan perkembangan intelektualnya, kesulitan dalam sosialisasi, emosinya tidak stabil, dan hambatan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga juga membutuhkan layanan bimbingan dan konseling.
Tujuan BK disekolah TKLB ini adalah guna untuk memberikan bimbingan kepada anak yang mengalami masalah, bukan hanya anak remaja atau dewasa saja yang mempunyai masalah, tetapi anak TK juga mempunyai masalah. Seperti anak yang sedang bermasalah dengan teman sebayanya.
Myrick dalam Muro & Kotman:1995 yang diperjelas kembali oleh Rakhmad (2006) mengemukakan empat pendekatan dapat dirumuskan sebagai pendekatan dalam bimbingan, yaitu pendekatan krisis, remedial, preventif dan perkembangan.
Pada keempat pendekatan ini, salah satunya adalah pendekatan krisis yang dipakai untuk anak TKLB. Sama-sama kita ketahui yang dimaksud dengan pendekatan krisis adalah  pembimbing menunggu munculnya suatu masalah dan dia bertindak membantu seseorang yang menghadapi masalah itu. Teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah teknik-teknik yang secara pasti dapat mengatasi masalah itu. Contohnya seorang anak datang mengadu kepada guru sambil menangis karena didorong temannya sehingga tersungkur ke lantai. Pembimbing yang menggunakan pendekatan ini akan meminta anak itu membicarakan penyelesaian masalah dengan temannya tersebut. Bahkan mungkin akan memanggil anak-anak itu ke kantornya untuk membicarakan penyelesaian masalah.
C.     Tujuan Bimbingan Konseling di SDLB
Pada dasarnya kebutuhan anak berkebutuhan khusus sama dengan anak-anak lain pada umumnya (kebutuhan jasmani dan rohani). Tapi ada hal-hal khusus yang membutuhkan penanganan khusus, biasanya berkaitan dengan kelainan atau kecacatan yang disandangnya. Di dalam prosesnya dapat berupa pendidikan, pembelajaran yang mendidik dan memandirikan, terapi, layanan bimbingan dan konseling, layanan medis, dll.
Penanganan itu tentunya dilakukan oleh profesi yang sesuai dengan bidangnya. Artinya akan banyak ahli yang terlibat dalam rangka memenuhi kebutuhan ABK itu. Sehingga dikenal dengan pendekatan multidisipliner. Para ahli dari berbagai bidang berkolaborasi memberikan layanan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan ABK agar berkembangan secara optimal.Maka dari itu anak SDLB juga membutuhkan layanan Bimbingan dan konseling guna untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ada beberapa fungsi BK di SDLB ini, antara lainnya adalah:
a.       Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan siswa.
b.      Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam hal membantu siswa untuk memilih jurusan sekolah, jenis sekolah,dan lapangan pekerjaan sesuai dengan minat, bakat, dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Kegiatan dalam fungsi penyaluran ini meliputi bantuan untuk memantapkan kegiatan belajar di Sekolah Dasar. Dalam melaksanakan funsinya, guru pembimbing atau konselor perlu kerjasama dengan pindidik lainnya di Sekolah Dasar maupun diluar Sekolah Dasar.
c.       Fungsi adaptasi, yaitu bimbingan dan konseling dalam hal membantu petugas-petugas di sekolah, khususnya guru, untuk mengadaptasikan program pendidikan dengan minat, kemampuan dan kebutuhan para peserta didik. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai para siswa atau guru pembimbing atau konselor dapat membantu guru untuk memperlakukan peserta didik secara tepat, baik dalam mengelola dan memilih materi pelajaran yang tepat, atau dalam mengadaptasikan bahan pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan siswa.
d.      Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam rangka membantu siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi dan memperoleh kemajuan dan berkembang secara optimal. Fungsi ini dilaksanakan dalam rangka mengidenfikasi, memahami, dan memecahkan masalah.
Pendekatan yang digunakan di SDLB ini adalah pendekatan remedial, guru akan memfokuskan bantuannya kepada upaya menyembuhkan atau memperbaiki kelemahan-kelemahan yang tampak. Tujuannya adalah menghindarkan terjadinya krisis yang mungkin terjadi. Berbagai strategi bisanya dilakukan seperti mengajarkan kepada siswa keterampilan tertentu misalnya keterampilan berdamai sehingga siswa tadi memiliki keterampilan untuk mengatasi masalah hubungan antar pribadi.


D.     Tujuan Bimbingan Konseling di SMPL
Pendekatan yang digunakan di SMPLB ini adalah, pendekatan preventif. Pendekatan  preventif mencoba mengantisipasi masalah-masalah generik dan mencegah terjadinya masalah itu. Masalah-masalah yang dimaksud seperti putus sekolah, berkelahi, kenakalan, merokok, dan sejenisnya yang secara potensial masalah itu dapat terjadi pada siswa secara umum. Model ini didasarkan pada pemikiran bahwa bila guru dapat mendidik siswanya untuk menyadari bahaya dari berbagai kegiatan dan menguasai metode.
Untuk menghindari terjadinya masalah itu maka pembimbing akan dapat mencegah siswa dari perbuatan yang membahayakan tersebut. Teknik yang dapat digunakan diantaranya mengajar dan memberikan informasi. Dari contoh diatas, guru akan mengajarkan sikap toleran dan memahami orang lain sehingga dapat mencegah munculnya perilaku agresif tanpa menunggu munculnya krisis terlebih dahulu.
Tujuan diberikan BK kepada anak SMPLB ini adalah, guna untuk mencegah perbuatan yang berbahaya bagi anak nantinya.

E.     Tujuan Bimbingan Konseling di SMAB
Pendekatan yang digunakan di SMALB ini adalah pendekatan perkembangan. Pendekatan perkembangan merupakan pendekatan yang lebih mutakhir dan lebih proaktif dibandingkan tiga pendekatan sebelumnya. Pembimbing yang menggunakan pendekatan ini beranjak dari pemahaman tentang keterampilan dan pemahaman khusus yang dibutuhkan siswa untuk mencapai keberhasilan di sekolah dan dalam kehidupan. Pendekatan ini memberikan perhatian kepada tahap-tahap perkembangan siswa, kebutuhan, dan minat serta membantu siswa mempelajari keterampilan hidup (Robert Myrick, 1989). Teknik yang dapat dilakukan diantaranya mengajar, menukar informasi, bermain peran, melatih, tutorial, dan konseling. Dari contoh diatas, guru yang menggunakan pendekatan ini, akan menangani anak sejak tahun-tahun pertama masuk sekolah, mengajari dan menyediakan pengalaman belajar bagi anak itu yang dapat mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi yang diperlukan untuk melakukan interaksi yang efektif dengan orang lain.
Tujuan BK di SMALB ini adalah memberikan bimbingan kepada anak dengan cara mendekati anak, dan mengamati sejauh mana perkembangan anak di sekolah. Memberikan pemahaman dan sekaligus keterampilan kepada anak.
Sebenarnya tujuan BK di sekolah-sekolah adalah semuanya sama hanya cara penerapannya saja berbeda, tujuan BK disekolah-sekolah adalah sebagai berikut :
1.      Anak  harus dapat mengenal dirinya sendiri
2.      Menemukan kebutuhan ABK yang spesifik sesuai dengan kelainannya. Kebutuhan ini muncul menyertai kelainannya.
3.      Menemukan konsep diri
4.      Memfasilitasi penyeusaian diri terhadap kelainan/kecacatanya
5.      Berkoordinasi dengan ahli lain
6.      Melakukan konseling terhadap keluarga ABK
7.      Membantu perkembangan ABK agar berkembang efektif, memiliki keterampilan hidup mandiri
8.      Membuka peluang kegiatan rekreasi dan mengembangkan hobi
9.      Mengembangkan keterampilan personal dan social
10.  Besama-sama merancang perencanaan pendidikan formal, pendidikan tambahan, dan peralatan yang dibutuhkan.

Dibawah ini disampaikan beberapa pendapat para ahli berkaitan dengan tujuan bimbingan dan konseling di SLB sebagai berikut.
1.      Menurut Nurihsan A J (2006) tujuan layanan bimbingan dijelaskan Nurihsan (2006:8) agar individu dapat:
a.       Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupannya pada masa yang akan datang.
b.      Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
c.       Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjannya.
d.      Mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat ataupun lingkungan kerja.
2.      Adapun tujuan konseling pada umumnya dan disekolah pada khususnya menurut Shertzer dan Stone (dalam Nurihsan.2006:12) sebagai berikut.
a.       Mengadakan perubahan perilaku pada klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan. Khusus di sekolah Boy dan Pine (Depdikbud, 1983:14) menyatakan, bahwa tujuan konseling adalah membantu siswa menjadi lebih matang dan lebih mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang positif, membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan potensinya sendiri. Persepsi dan wawasan siswa berubah, dan akibat dari wawasan baru yang diperoleh, maka timbullah pada diri siswa reorientasi positif terhadap kepribadian dan kehidupannya.
b.      Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif. Jika hal ini tercapai, maka individu mencapai integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif dengan yang lainnya. Ia belajar menerima tanggungjawab, berdiri sendiri, dan memperoleh integrasi perilakunya.
c.       Penyelesaian masalah. Hal ini bberdasarkan kenyataan, bahwa individu yang mempunyai masalah tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Biasanya siswa datang sendiri kepada konselor karena ia percaya bahwa konselor dapat membantu menyelesaikan masalahnya.
d.      Mencapai keefektifan pribadi. Blocher mengatakan bahwa pribadi yang efektif adalah pribadi yang dapat memperhitungkan diri, waktu dan tenaganya, serta bersedia  memikul resiko-resiko ekonomis, psikologis, dan fisik. Ia tampak konsisten, sanggup berfikir secara berbeda dan orisinal, yaitu dengan cara-cara yang  kreatif.
e.       Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya. Pekerjaan konselor bukan menentukan keputusan yang harus di ambil oleh klien atau menentukan alternatif dari tindakannya. Keputusan ada pada diri klien sendiri. Klien harus belajar mengatasi konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi dalam pengorbanan pribadi, waktu, tenaga, uang, resiko, dan sebagainya. Individu belajar memperhatikan nilai-nilai dan ikut serta mempertimbangkan yang di anutnya secara sadar dalam pengambilan keputusan.
3.      Menurut Priyatno dan Amti E (2004: 114) menyebutkan tujuan umum dan tujuan khusus dalam bimbingan dan konseling sebagai berikut:
a.       Tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimiliki (seperti kemampuan dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.
b.      Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran dari tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan masalah yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahan tersebut. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis, intensitas, dan sangkutpautnya, serta masing-masing bersifat unik.
4.      Menurut Tohirin (2007: 36-37) tujuan bimbingan dan konseliang atau tujuan konseliang agar klien dapat:
a.       Memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya.
b.      Mengarahkan dirinya agar sesuai dengan potensi yang dimilikinya sesuai dengan tingkat perkembangan yang optimal.
c.       Mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.
d.      Mempunyai wawasan yang lebih realistis serta penerimaan objektif tentang dirinya.
e.       Dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif baik terhadap dirinya maupun lingkungannya sehingga memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.
f.       Mencapai taraf aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
g.      Terhindar dari gejala-gejala dan perilaku yang salah.

Minggu, 05 Januari 2014

Modifikasi Perilaku



A.     Pengertian Modifikasi Perilaku
Modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai: (1) upaya, proses, atau tindakan untuk mengubah perilaku, (2) aplikasi prinsip-prinsip belajar yg teruji secara sistematis untuk mengubah perilaku tidak adaptif menjadi perilaku adaptif, (3) penggunaan secara empiris teknik-teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku melalui penguatan positif, penguatan negatif, dan hukuman, atau (4) usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia.
Dalam pandangan kaum behavioristik aliran klasik, modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai penggunaan secara sistematik teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku tertentu /mengontrol lingkungan perilaku tersebut. Jika teknik kondisioning diterapkan secara ketat, dgn stimulus, respon dan akibat konsekuensi diharapkan terbentuk perilaku lahiriah yg diharapkan. Dalam pandangan aliran operan, modifikasi perilaku akan terbentuk ketika penguat / pengukuh diberikan berupa reward / punishment. Sedangkan dalam panangan aliran behavior analist, modifikasi perilaku merupakan penerapan dari psikologi eksperimen seperti dalam laboratorium. Proses, emosi, problema, prosedur, semua diukur. Pengubahan perilaku dilaksanakan dengan rancangan eksperimen dibuat dengan cermat. Perilaku dihitung secara cacah untuk mendaparkan data dasar. Variabel bebas dimanipulasi, metode statistik digunakan untuk melihat perubahan perilaku, pengulangan jika perlu dilakukan hingga terjadi perubahan perilaku secara jelas.
Sedangkan dalam pandangan para ahli, menurut Eysenk modifikasi Perilaku adalah upaya mengubah perilaku dan emosi manusia dgn cara yg menguntungkan berdasarkan teori yg modern dalam prinsip psikologi belajar. Menurut Wolpe, yaitu penerapan prinsip-prinsip belajar yg telah teruji secara eksperimental untuk mengubah perilaku yg tidak adaptif, dgn melemahkan atau menghilangkannya dan perilaku adaptif ditimbulkan atau dikukuhkan. Sedangkan menurut Hana Panggabean, modifikasi perilaku adalah penerapan dari teori Skinner, sering juga disebut sebagai behavior therapy. Merupakan penerapan dari shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement secara selektif, dan extinction.   
B.     Karakteristik Modifikasi Perilaku
Terdapat empat ciri utama modifikasi perilaku, yaitu: (1) Fokus pada perilaku (focuses on behavior), (2) Menekankan pengaruh belajar dan lingkungan (emphasizes influences of learning and the environment), (3) Mengikuti pendekatan ilmiah (takes a scientific approach), dan (4) Menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubah perilaku (uses pragmatic and active methods to change behavior). Fokus pada perilaku artinya menempatkan penekanan pada perilaku yang dapat diukur berdasara atas dimensi-dimensinya, seperti frekuensi, durasi, dan intensitasnya. Karena itu metode modifikasi perilaku selalu mengamati dan mengukur setiap tahap perubahan sebagai indikator dari berhasil atau tidaknya program bantuan yang diberikan. Dalam modifikasi perilaku, akan menghindari label-label interpretatif dan sistem diagnostik (avoid interpretive labels and diagnostic systems), serta fokus pada perilaku yang berkekurangan atau yang berlebihan (focus on behavioral deficits or behavioral excess). Dalam modifikasi perilaku, mengkategorikan apakah suatu perilaku sebagai berlebihan atau kekurangan merupakan langkah yang mutlak, sehingga dapat dipahami secara pasti mana perilaku yang termasuk excesses atau berlebihan dan akan dikurangi atau yang termasuk deficit atau berkekurangan dan akan ditingkatkan. Identifikasi ini harus dilihat dalam konteks di mana perilaku tersebut muncul.
Behavioral exceses adalah perilaku target yang negatif (tidak layak) yang ingin dikurangi frekuensi, durasi, atau intensitasnya. Termasuk perilaku ini misalnya:
a.       Perilaku anak yang tidak bisa diam, seperti keluar masuk rumah, naik turun tangga, membuang pakaian ke lantai.
b.      Perilaku anak yang selalu mengomentari orang lain, mengejek, berlama-lama ngobrol menggunakan telepon.
c.       Perilaku anak yang selalu mengganti chanel TV atau berlama-lama duduk di depan TV, dsb.
Dalam kasus anak autis, perilaku berlebihan ini tampak misalnya pada perilaku stimulasi diri (menatap jari jemari, mengepak-ngepak tangan), self-abuse (memukul menggigit, mencakar diri sendiri), tantrum (menjerit, mengamuk), atau agresif (menendang, memukul,mencubit, menggigit orang lain).
Sedangkan Behavioral deficit adalah aladah target perilaku yang positif (lanyak) yang ingin ditingkatkan frekuensi, durasi, atau intensitasnya. Termasuk dalam perilaku yang kurang, misalnya:
a.        Anak yang tidak dapat menghitung atau menjumlahkan angka-angka dengan tepat.
b.      Siswa yang tidak pernah mengerjakan tugas-tugas sekolah
c.       Siswa yang selalu melanggar aturan dan tatatertib sekolah
d.      Siswa yang sering melakukan pencurian, suka merokok, dsb.
Pada kasus anak autis, termasuk perilaku yang berkekurangan ini misalnya tidak mau atau sedikit bicara, secara sosial cenderung mengganggap orang lain sebagai benda atau bahkan tidak ada, ketika bermain hanya senang memutar roda mobil-mobilan, tidak mau merespon stimulus dari lingkungan, sehingga sering disangka tuli-buta, kehidupan emosinya yang datar (misal, hanya bengong ketika dikelitiki), dsb.
Modifikasi perilaku juga menekankan pengaruh belajar dan lingkungan, artinya bahwa prosedur dan teknik tritmen menekankan pada modifikasi lingkungan tempat dimana individu tersebut berada, sehingga membantunya dalam berfungsi secara lebih baik dalam masyarakat. Lingkungan tersebut dapat berupa orang, objek, peristiwa, atau situasi yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap kehidupan seseorang. Mengikuti pendekatan ilmiah artinya bahwa penerapan modifikasi perilaku memakai prinsip-prinsip dalam psikologi belajar, dengan penempatan orang, objek, situasi, atau peristiwa sebagai stimulus, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sedangkan menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubah perilaku maksudnya bahwa dalam modifikasi perilaku lebih mengutamakan aplikasi dari metode atau teknik-teknik yang telah dikembangkan dan mudah untuk diterapkan..
C.     Keunggulan dan Kelemahan Modifikasi Perilaku
Modifikasi perilaku sebagai pengubah perilaku dan terapi mempunyai keunggulan disamping juga kelemahan. Dibandingkan dengan perlakuan berdasarkan pendekatan psikologi yang lain, psikologi dinamika misalnya. Beberapa keunggulan yang dapat ditonjolkan adalah :
1.      Langkah-langkah dalam modifikasi perilaku dapat direncanakan terlebih dahulu. Rencana tersebut dapat dimintakan persetujuan individu yang akan diubah perilakunya, sehingga ia lebih kooperatif.
2.      Perincian pelaksanaan dapat diubah selama perlakuan/terapi berlangsung. Perubahan disesuaikan dengan kebutuhan.
3.      Bila dari hasil monitoring ternyata suatu teknik gagal atau kurang berhasil untuk menimbulkan perubahan, dapat segera dideteksi dan diusahakan teknik penggantinya.
4.      Teknik-teknik yang dipakai dalam modifikasi perilaku dapat diterangkan dan diatur secara rasional. Hasil perlakuan dapat diramalkan dan dievaluasi secara objektif.
5.      Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan perubahan lebih singkat daripada menggantungkan perubahan yang terjadi secara insight yang diperoleh subjek.
Walaupun memiliki beberapa keunggulan namun modifikasi perilaku juga memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain :
1.      Percobaan-percobaan awal dilakukan dalam modifikasi perilaku menggunakan media binatang, sementara perilaku binatang tidak sekompleks perilaku manusia sehingga bila diterapkan pada manusia memerlukan penanganan secara teliti.
2.      Tidak semua perilaku manusia dapat diamati secara langsung, sehingga modifikasi perilaku mengalami kesulitan untuk mengubah perilaku-perilaku yang pengamatannya tidak langsung. Bahkan banyak perilaku yang melalui media penghayatan terhadap perilaku itu sendiri.
3.      Perilaku manusia itu kompleks, sehingga untuk melakukan analisis perilaku yang tepat memerlukan latihan dan kecermatan dari terapis.
4.      Tidak semua teknik dalam modifikasi perilaku dapat diterapkan pada setiap perilaku yang akan diubah, sehingga masing-masing teknik memiliki kelemahan.

Kamis, 02 Januari 2014

Pengembangan Sosial Emosional Anak


1.      Pentingnya pengembangan sosial  emosional anak
Terdapat kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak memiliki kesulitan emosional dari pada generasi sebelumnya sehingga berdampak pada kemampuan sosialisasinya. Dengan demikian, perlu ada upaya peningkatan kecerdasan emosional, yaitu usaha-usaha yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan kualitas emosional anak sehingga mampu mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, mampu memotivasi diri sendiri serta mampu mengelola emosi dan perilaku sosial menjadi lebih baik.
2.      Prinsip – prinsip pengembangan sosial emosional anak
Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople (Siti Aisyah dkk., 2007 : 1.17 – 1.23) adalah sebagai berikut :
a.       Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kgnitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
b.      Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yangrelative dapat diramalkan.
c.       Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.
d.      Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.
e.       Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.
f.       Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.
g.      Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, social, dan pengetahuan yang diperolehnya.
h.      Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
i.        Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan social, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.
j.        Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.
k.      Anak memiliki modalitas beragam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau gabungan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga dapat belajar hal yang berbeda pula dalam memperlihatkan hal-hal yang diketahuinya.
l.        Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik dan fisiologis